Senin, 14 Desember 2015

FANFIC MAHAPUTRA (The Difficult Love Chapter 2)

PRAJA (Pratap & Ajabde)  FANFIC




DISCLAIMER : Mahaputra / Bharat Ka Veer Putra diproduksi oleh Abhimanyu Raj Singh dari Contiloe Entertainment.

TITTLE           :  ҉҉҉҉ THE DIFFICULT LOVE  ҉҉҉҉         
AUTHOR        :  GITA DHARMA YANTI


҉҉҉҉ THE DIFFICULT LOVE  ҉҉҉҉
( chapter 2 )

Sesampainya Ajabde dirumah, Ia langsung menghempaskan tubuhnya yang amat lelah ke ranjang empuk miliknya. Sempat terbayang olehnya wajah dingin yang baru pertama kali dilihatnya. Dia mempunyai firasat, apabila dia berada didekat orang itu maka dirinya akan mendapat masalah. Suara ketukan pintu membuat Ajabde tersentak. Tokk….Tokk…Tokkk,, ibunda Ajabde masuk kekamar Putri semata wayangnya.
“ Ajabde cepat turun ! ibu sudah menyiapkan makan siang untukmu.” titah sang ibu pada Ajabde, dengan suara mengalun lembut.
“Baik Bu. Sebaiknya Ibu menungguku di meja makan saja.” Ajabde mendudukkan diri yang sebelumnya dalam posisi rebah.
“Oh ya Ajabde bagaimana dengan sekolahmu ?”
“Baik bu. Tapi hari ini sangat melelahkan.” Jawab Ajabde sambil tersenyum.
“Baiklah kalau begitu. Ibu akan menunggumu di meja makan.” Ibu Ajabde mengelus pucuk kepala putrinya dan keluar dari kamar Ajabde.
“Sebaiknya Aku menghindari orang itu, daripada harus mengalami masalah.” Ajabde bersiap-siap turun ke bawah untuk makan siang. Dia tidak mau membuat Ibunya menunggu lama.
~~~~~~~OOO~~~~~~~

Ajabde berjalan sendirian menyusuri koridor yang nampak sepi, mungkin karena saat ini masih ada materi MOS yang disampaikan dibeberapa ruang gugus. Dimana hari ini merupakan hari terakhir pelaksanaan MOS. Ajabde menuju perpustakaan untuk mengembalikan beberapa buku yang telah usai dipinjamnya untuk mengusir rasa bosannya.
Tak sengaja Ia berpapasan dengan seorang siswa. Ajabde berjalan lurus tanpa nemoleh, sedangkan siswa itu sempat melirik Ajabde untuk beberapa saat. Entah mengapa ada desiran aneh dihati mereka saat berpapasan. Ajabde menggelengkan kepalanya pelan “kenapa denganku ?” gumannya dalam hati. Sepertinya Ajabde tidak menyadari kalau dirinya baru saja berpapasan dengan seorang ‘Pratap Singh’.

Pratap menghentikan langkahnya, sementara Ajabde terus berjalan menuju perpustakaan. Pratap membalikkan badan dan dilihatnya Ajabde telah berlalu cukup jauh.
“ Tunggu, kau ! hei… tunggu Nona !” Pratap berusaha memanggil Ajabde, namun Ajabde masih terus berjalan. Dia sama sekali tidak mendengarkan panggilan Pratap.
“ Argghhh… aku terpaksa menyusulnya kalau begini.”  Pratap berusaha secepat mungkin mengejar ketertinggalan jaraknya dengan Ajabde.
Pratap masih terus mengejar Ajabde yang kini tak terlihat lagi, sebab dia telah berbelok. ‘Tunggu’ Pratap berhenti sejenak
“ Kenapa aku harus mengejar gadis itu, apa aku sepeduli itu pada tali sepatunya ?.... lebih baik aku biarkan saja….” Pratap hendak berhenti mengejar Ajabde, namun hatinya tambah gelisa.
“ Arghhhh… sial !” Pratap merutuki dirinya sendiri.

~~~~~~~OOO~~~~~~~

Ajabde mempercepat langkahnya menuju perpustakaan, Ia merasa sedang diikuti. Perasaannya makin risau. Namun dia tidak sadar tali sepatunya tidak terikat sejak keluar ruang gugus. Badannya kehilangan keseimbangan dan buku-buku dipelukannya terlepas, jatuh berhamburan.
“ Uwwaaa…..” Ajabde menutup mata, tapi aneh rasanya mengingat seharusnya dia sudah membentur lantai saat ini. Dan dia juga merasa aneh karena perutnya terasa ditahan oleh seseorang.
Ajabde membuka mata perlahan dan menenangkan dirinya , kemudian menegakkan posisinya yang sebelumnya condong kedepan. Dia penasaran, siapa yang telah menolongnya. Saat berbalik….
“ Kau tidak apa-apa ?” didapatinya seorang siswa yang terlihat cemas. Ajabde terpukau melihat paras lelaki didepannya.
 Pratap berjongkok dan memunguti buku-buku Ajabde yang berserakan. Ajabde mengernyitkan alisnya, kemudian Ia ikut berjongkok dan memandangi lelaki didepannya.
“haii..? Haii ! “ pratap mengibas-ngibaskan telapak tangannya didepan wajah Ajabde.
“ A..Ehh.. ma-maaf merepotkanmu.” Ajabde seperti orang linglung yang terus memandangi Pratap, bodohnya lagi dia tidak mengerti kenapa dirinya jadi begini.
“ini bukumu.” Setelah menyerahkan buku pada Ajabde, Pratap mulai melangkah meninggalkan Ajabde. Kedua tangannya dia masukkan didalam saku celananya.
“te-terimakasih.” Mendengar Ajabde berkata dengan tergagap-gagap membuat Pratap menghentikan langkahnya dan tidak ada yang tau ekspresi wajahnya saat ini. Sebab Pratap masih memunggungi Ajabde.
“ Lain kali jangan sampai lupa lagi mengikat tali sepatumu. Itu sangat berbahaya !” Pratap berkata dengan nada datar lalu pergi meninggalkan Ajabde yang dilanda kebingungan.

“ Apa dia yang telah mengikutiku sejak tadi ?” tanyanya entah pada siapa, sambil terus memandangi Pratap yang makin jauh.

~~~~~~~OOO~~~~~~~

*Di Perpustakaan*

“ Shakti.. Shakti, lihat disana !” seorang siswa mengguncang bahu teman disebelahnya yang dipanggilnya Shakti.
“ Ada apa ? Aku masih belum selesai dengan game ini. Sudah pergi sana menjauh dariku… kau hanya mengganggu waktu bermainku !”  Siswa bernama Shakti mengusir temanya karena dianggap mengganggunya bermain games.
Lagi-lagi temannya berkata “ Coba lihat disebelah sana Shakti, sebentar saja !”
“ Sebenarnya ada ap…. ?” Shakti tidak bisa melanjutkan kata-katanya, saat matanya menangkap sosok gadis cantk diseberang sana dari sela-sela buku. Gadis itu tidak tahu dirinya sedang diperhatikan dan masih sibuk merapikan buku-buku.
Shakti menyeringai iblis… “ini akan sangat menyenangkan !” batinnya.
“ Apa yang kau pikirkan Shakti ?”
“ Jakmal, Ayo kita bermain-main sebentar !” Shakti lagi-lagi memperlihatkan seringaian iblisnya sambil memberi isyarat pada Jakmal dengan melirik gadis diseberang sana.
Ajabde pergi meninggalkan perpustakaan menuju toilet.

~~~~~~~OOO~~~~~~~

“ Shakti kau mau apa di toilet perempuan ?”  Jakmal makin bingung sekaligus merasa khawatir jika dilihat siswa lain.
“ Apa kau lihat ? boneka cantikku masuk kedalam !” terang Shakti kepada Jakmal.
“ Sebenarnya apa yang kau rencanakan Shakti ? kalau ada orang yang tau kita masuk ke toilet perempuan, maka habislah kita..” Jakmal memasang wajah resahnya sambil celingukan beberapa kali.
“ Aku hanya ingin memberinya sedikit pelajaran karena, sudah mengotori bajuku dengan sausnya.”






``FLASHBACK``
Dbuuuaggghhh…..
Ajabde tidak sengaja menabrak seorang siswa hingga menumpahkan saus yang mengotori seragam siswa itu.
“ma..maaf aku tidak sengaja tadi. Sekali lagi aku minta ma..maaf.” ajabde hanya bisa menunduk kemudian Ia mengeluarkan selembar saputangan dari saku bajunya.
Belum sempat Ajabde mencoba membersihkan noda sausnya, siswa itu mencengkram erat pergelangan tangan Ajabde.
Ajabde mendongak menatap Siswa tersebut…. Mereka saati ini tengah menatap satu sama lain.
“Maafkan aku… aku be-benar-benar minta ma-maaf..” Ajabde kembali menundukkan wajahnya, Ajabde merasa takut melihat tatapan Shakti yang begitu dingin.
“Pergilah…, pergilah dari hadapanku sekarang juga.” Nada bicara Shakti amat dingin.
“Ta-tapi bagaimana dengan…”
“Sudah…, tidak perlu kau khawatirkan. Lebih baik kau menyingkir dari hadapanku.” Melihat mata Shakti yang memancarkan kemurkaan, tanpa buang waktu Ajabde pergi meninggalkan kantin bersama Soubagyavati.
“Apa itu tadi ? kenapa kau tidak marah sama sekali Shakti ?” Jakmal meragukan tindakan Shakti.
“Aku hanya tidak ingin membuat boneka cantikku sampai rusak. Tapi akan ku pastikan suatu saat dia menerima akibatnya. Kita lihat saja nanti …” seringaian iblis tersungging dari bibir Shakti.
``FLASHBACK END``

“Lalu apa rencanamu ? aku tidak ingin melakukan sesuatu yang berbahaya.”
“Kita kunci dia didalam sampai jam sekolah berakhir.” Shakti menunjukkan sebuah kunci pada Jakmal.
“Tunggu apa lagi, kita harus bergerak cepat. Biar aku yang mengawasi keadaan.”
Shakti mulai melancarkan aksinya, Ia berjalan perlahan mendekati salah satu pintu toilet dimana dia tahu betul, Ajabde sedang ada di dalam sana.

~~~~~~~OOO~~~~~~~

Sebelum sempat memutar kunci, tiba-tiba saja…..
Buuggghhh…..
Pukulan keras mendarat tepat dipipi kanan Shakti. Jakmal dan Shakti kaget bukan kepalang, mendapat serangan mendadak dari seorang siswa.


“Apa-apaan ini ? kenapa kau memukulku !” bentak Shakti tak terima.
“Seharusnya aku yang bertanya. Apa-apaan kau ini, masuk diam-diam ke toilet perempuan. Apa kau tidak punya rasa malu ?!!” sahut Pratap dengan nada agak tinggi. Shakti mengepalkan tangan kanannya, karena merasa diejek.
Mendengar suara keributan diluar, Ajabde keluar dari dari dalam kamar mandi.
“Ka-kalian sedang apa di toilet perempuan ?!” Ajabde terbelalak melihat tiga orang siswa berada di toilet wanita. Ketiga siswa itu  menoleh secara bersamaan kearah Ajabde.
“Prataaaaappppp!!!!!” teriakkan Shakti menggema. Semua menoleh kearah Shakti.
Buuugghhhh….. tinjuan Shakti berhasil mengenai wajah Pratap. Buuugggghh….. kali ini pukulannya bersarang diperut Pratap. Jakmal yang melihat situasi semakin keruh berusaha melerai Shakti dan Pratap. “Pratap ?” Ajabde mengucap nama itu dalam hati, kemudian menoleh ke arah Pratap yang tengah meringis, menahan sakit akibat pukulan Shakti
“Sudah hentikan!!” Jakmal mendorong tubuh Shakti menjauh dari Pratap. Sementara Ajabde juga ikut membantu dengan menarik lengan Pratap agar menjauh dari Shakti. Mereka berhasil menghentikan perkelahian itu.
Awalnya Shakti masih ingin menghajar Pratap, namun niatnya diurungkan sebab ada Ajabde dipihak Pratap. Ia memutuskan pergi dari sana, Shakti sempat memandang tajam kearah Pratap dan Ajabde, tatapan yang sangat menusuk. Kemudian lenyap dari pandangan mereka.
“Tunggu aku Shakti !” Jakmal mengejar Shakti dan sempat menoleh kearah Ajabde dan Pratap.
~~~~~~~OOO~~~~~~~

“Sudah tidak usah memapahku, aku bisa mengobati lukaku.” Pratap menepis tangan Ajabde yang berusaha memapahnya keruang kesehatan.
“Tapi kau sedang terluka, lagi pula apa yang kau lakukan di toilet wanita. Kau seorang laki-laki kan ?” Ajabde mengerutkan dahi.
“Apa maksudmu, tentu saja Aku laki-laki sejati.” Sahut Pratap tak mau kalah.
“Laki-laki sejati tidak mungkin memasuki toilet perempuan.”
“Masalah itu…..  aku tidak bisa menjelaskannya padamu !”
“Apa kau ingin mengintip seorang gadis ?”
“Ap-Apa yang kau… Uhhuuukk.” Pratap memuntahkan cairan merah kental.
“Kau memuntahkan darah…!” mata Ajabde membulat melihat darah keluar dari mulut Pratap. Ajabde berusaha memapah Pratap lagi.
“Sudah aku tidak apa-apa, sungguh.” Pratap kembali menolak bantuan Ajabde.
“Kau harus segera diobati…” Ajabde sudah tidak peduli lagi mendengar penolakan Pratap dan segera memapahnya menuju ruang kesehatan.

Sesampainya diruang kesehatan Ajabde dengan telaten mengobati luka lebam diwajah Pratap. Ia tidak sadar sedang ditatap lekat-lekat oleh seorang Pratap Singh. Ketulusan Ajabde membuat sesuatu didalan hatinya bergejolak.

Pratap enggan melepas pandangannya kearah Ajabde yang masih setia berkutat dengan luka di wajahnya, dia sendiri tidak mengerti kenapa dia senang ada didekat Ajabde. Hanya saja perasaan itu tidak ditunjukkannya.

“Ajabde !” sebuah suara lembut memanggil Ajabde, kemudian Ajabde menghentikan aktivitasnya dan menoleh kepada sang pemilik suara.
“Soubagyavati.” Ajabde mengernyitkan alisnya melihat raut wajah Soubagyavati yang menampakkan ketakutan.
“Ikutlah denganku !” Soubagyavati membawa pergi Ajabde tanpa memperdulikan Pratap yang juga ada disana. Akhirnya Soubagyavati keluar ruang kesehatan bersama Ajabde, meninggalkan Pratap seorang diri.
“Ajabde…” hanya kata itu yang mampu Pratap ucapkan. Entah Ia ingin menghentikan Ajabde, tapi rasanya bukan itu sebab volume suaranya tak kan didengar oleh Ajabde sekali pun. Ataukah Pratap hanya ingin menyebut nama itu.

~~~~~~~OOO~~~~~~~
*di ruang kelas*
Bola mata Ajabde membulat dengan sempurna melihat benda yang berada diatas mejanya. Se-ekor burung merpati putih yang tergeletak tak bernyawa dan bersimbah darah menjadi pusat perhatiannya kini. Benak Ajabde memuat sebuah tanda tanya besar “siapa yang melakukannya ?”.
Ekspresi kerisauan terbaca pada paras cantik Ajabde oleh se-isi ruangan, termasuk sepasang mata yang menatap dari luar kelas. Tak sengaja Ajabde menangkap sosok itu tengah menyeringai iblis kearahnya.
“Kau senang dengan hadiahku boneka cantik ?” Siswa itu tetap menyeringai dengan arogan.


`````TBC`````

Tidak ada komentar:

Posting Komentar